Menulis Sekali Duduk: Ajakan Sunyi dari Perpustakaan Kampus

Fenomena apa yang menyebabkan tumpulnya kemampuan menulis? 

Untuk memulai tulisan dengan satu kata pertama saja, otak sudah dibuat kerja keras. Ada hal yang salah manakala kecamuk dalam pikiran tidak tertuang pada Tulisan. Apakah karena kekosongan Tabungan pengetahuan? Ataukah karena terlalu banyak hal lain yang berseliweran di kepala. Semakin dewasa pekerjaan menulis bukan lagi sebuah kebutuhan; juga bukan sebuah kewajiban. Lalu apakah kita memang tidak perlu lagi menulis? Terlalu jamak kalau tema kita kemampuan menulis. Sama halnya dengan membaca, menulis merupakan pekerjaan pribadi dan terkotak-kotak. Ada yang suka menulis jurnal penelitian, fiksi, berita, puisi, sepenggal quote, atau sekedar luapan perasaan.

Jika melihat sumber bacaan kita yang begitu melimpah, maka seharusnya tidak sulit juga kita memulai satu kata untuk mengejewantahkan melalui tulisan. Tapi apakah kamu butuh hal tersebut? karena menulis merupakan sebuah kebutuhan pribadi. Kebutuhan Rohani.

Pikiran yang kalut ini harus segera diuraikan. Beban menanggung permasalahan membuat sulit mengembangkan diri.

Sekarang jika kamu mencoba membaca ulang tulisanmu dari awal. Maka kamu akan tahu Dimana letak kesalahannya. Yup, betul. Ketidak teraturan. Pikiran kita terlalu luas; bahkan kita lupa tema utama tentang penyebab tumpulnya kemampuan menulis.

Manakah yang lebih dulu dari mengembangkan kemampuan menulis atau membaca?

Jika kita kembali telaah, saat masih kecil kita diajarkan membaca terlebih dahulu. Mengenal huruf dan bilangan. Lalu kemudian setelah mahir mengeja dan membaca. Kita diarahkan bukan lagi pilihan ganda, tapi uraian. Dimana bukan sekedar kemapuan mengenal kata tapi juga kerja otak yang dibantu oleh Gerak tangan.

Gerakan tangan kita sangat terbatas dan sangat lambat dibandingkan penjelasan dari otak kita. Kemampuan mentransfer pikiran kedalam tulisan adalah kemampuan dasar. Kalau menulis adalah kerja ukiran tangan, sekarang lebih cepat dengan bantuan keyboard. Namun masih terlalu lambat untuk menyamai kecepatan jalan pikiran kita.

Kemudian teknologi kemudian membantu penerjemahan melalui lisan. Yang mentransfer pikiran kita lewat kemampuan berbicara. Tapi bukan hal mudah untuk melakukannya. Maka dari itu terkadang kemampuan beretorika juga diimbangi dengan kemampuan menulis naskahnya.

Lalu apakah teknologi canggih yang bisa mentranslate pikiran kita jadi sebuah tulisan?

Pertanyaan ini bisa jadi sebuah Solusi, mana kala kita ingin membuat Tulisan yang cepat, tidak terpotong. Apakah teknologi itu benar-benar terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin, selama manusia mendewakan rasa penasarannya. Semua bisa terjadi.

Kita kembali ke topik utama. Jadi kenapa kita tidak mulai belajar menulis dari sekarang? buat sebuah agenda rutin untuk memberikan olahraga bagi otak dan jemari kita. Siapa tahu ada yang akan tertarik untuk ikut belajar menulis dan menajamkan kemampuan berpikir melalui tulisan. Apakah kamu bersedia ambil bagian dari pengembangan diri ini?

Aku sudah punya rencana, sudah lama sekali ingin mengajak teman-teman mahasiswa untuk kembali mencintai dunia tulis menulis. Tapi terkendala waktu, kemampuan dan jaringan pertemanan yang menyulitkan untuk mewujudkannya. Iseng-iseng aku kembali mengunjungi perpusatakaan kampus, melirik buku-buku, minat dan ketertarikan mahasiswa dalam menulis. pihak perpustakaan memberi peluang besar bagi siapapun untuk mengisi ruangan dengan kegiatan yang bermanfaat, mendukung diadakanya kegiatan literasi.

Tapi disisi lain, aku belum percaya diri untuk mengawali hal ini. dengan aku yang belum jadi apa-apa ini berani-beraninya mengajak orang lain untuk kembali menggemari kegiatan menulis. siapa kamu? Membuat tulisan saja acak-acakan. Tidak fokus, terlalu berbelit. Loncat sana-loncat sini. kurang konsisten dan sebagainya.

Tapi, aku ingin belajar lagi, dan energi ini tidak ingin disimpan sendiri. Aku ingin membagi energi ini. energi yang menggebu untuk sama-sama belajar menulis dan mengembangkan menjadi sebuat platform, buku, naskah, atau media yang lain.

Jadi apa yang akan kita mulai?

Berkumpul, membawa alat tulis, dan menulis sepi di perpustakaan. Mencetak hasil tulisan hari ini dan mengarsipkannya. Saling terbuka bercerita melalui tulisan. Tak perlu mengkritik, tak perlu memberi saran, cukup menulis dan mengumpulkan secara konsisten. Kita akan lihat apaakah kemampuan menulis kita akan berkembang setelah energi ini dipakai?

Saat menulis bagian ini, otakku menerawang bagaimana jika tulisan ‘sekali duduk’ ini di share di media social, menunggu respon orang lain. orang-orang yang saling terkoneksi. Tiba-tiba entah kamu atau siapa, dengan ajaibnya menghubungiku, lalu datang ke perpustakaan duduk menulis dengan tenang; tentang apapun itu, genre apapun itu. tidak terikat apapun. Dan menyerahkan hasil tulisan yang ditulis ‘sekali duduk’ juga.

Apakah ini akan berhasil dan membantu menarik minat? 
Aku tidak yakin, dan selama aku menulis ini. aku juga tidak yakin akan ada yang tergerak untuk bergabung. Entah karen konsepnya yang belum terkonsep. Entah karena kesibukan yang akan menyibukan. Atau karena memang karena tidak terlalu minat.

Walau satu orang yang bergerak pun aku masih ragu. Dan aku akan kembali menjadi seorang penyendiri yang menggenggam energi ini.

Dan Tak perlu temui aku. Aku terlalu penat mengurusi administrasi.
 
:::

Sepertinya aku kepikiran membuat website khusus literasi atau menulis. Dimana semua orang bisa daftar akun, dan menulis disana. Seru juga! Aku lanjut ngoding dulu kali ya.

---
Note : Tulisan ini ditulis sekali duduk dan tanpa pengeditan. Sebagai latihan pertama menulis apapun ‘sekali duduk’.

Komentar